Kamis, 10 Februari 2011

persiapan dan teknik pemeriksaan USG OBSTETRI

PERSIAPAN DAN TEKNIK PEMERIKSAAN USG OBSTETRI
1. Persiapan Pemeriksaan
Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan, telah terbukti dapat mencegah penyebaran infeksi. Epidemi HIV telah menjadikan pencegahan infeksi kembali menjadi perhatian utama, termasuk dalam kegiatan pemeriksaan USG dimana infeksi silang dapat saja terjadi. Kemungkinan penularan infeksi lebih besar pada waktu pemeriiksaan USG transvaginal karena terjadi kontak dengan cairan tubuh dan mukosa vagina.
Resiko penularan dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang, dan ringan. Resiko penularan tinggi terjadi pada pemeriksaan USG intervensi (misalnya punksi menembus kulit, membran mukosa atau jaringan lainnya); peralatan yang dipakai memerlukan sterilisasi (misalnya dengan autoklaf atau etilen oksida) dan dipergunakan sekali pakai dibuang.
Resiko penularan sedang terjadi pada pemeriksaan USG yang mengadakan kontak dengan mukosa yang intak, misalnya USG transvaginal; peralatan yang dipakai minimal memerlukan sterilisasi tingkat tinggi (lebih baik bila dilakukan sterilisasi).
Resiko penularan ringan terjadi pada pemeriksaan kontak langsung dengan kulit intak, misalnya USG transabdominal; peralatan yang dipakai cukup dibersihkan dengan alkohol 70% (sudah dapat membunuh bakteri vegetatif, virus mengandung lemak, fungisidal, dan tuberkulosidal) atau dicuci dengan sabun dan air.
Panduan di bawah ini dapat membantu mencegah penyebaran infeksi 1,2 :
(1) Semua jeli yang terdapat pada transduser harus selalu dibersihkan, bisa memakai kain halus atau kertas tissue halus.
(2) Semua peralatan yang terkontaminasi atau mengandung kotoran harus dibersihkan dengan sabun dan air. Perhatikan petunjuk pabrik tentang tatacara membersihkan peralatan USG.
(3) Transduser kemudian dibersihkan dengan alkohol 70% atau direndam selama dua menit dalam larutan yang mengandung sodium hypochlorite (kadar 500 ppm10 dan diganti setiap hari), kemudian dicuci dengan air mengalir dan selanjutnya dikeringkan.
(4) Transduser harus diberi pelapis sebelum dipakai untuk pemeriksaan USG transvaginal, bisa memakai sarung tangan karet, atau kondom.
(5) Pemeriksa harus memakai sarung tangan sekali pakai (tidak steril) pada tangan yang akan membuka labia sebelum transduser vagina dimasukkan. Perhatikan jangan sampai sarung tangan tersebut mengotori peralatan USG dan tempat pemeriksaan.
(6) Setelah melakukan pemeriksaan, sarung tangan harus dimasukkan pada tempat khusus untuk mencegah penyebaran infeksi, dan pemeriksa mencuci tangan.
(7) Pada pemeriksaan USG invasif, persiapan yang dilakukan sama seperti akan melakukan tindakan operasi, misalnya peralatan yang dipakai harus steril, operator mencuci tangan dengan larutan mengandung khlorheksidine 3%, memakai sarung tangan dan masker, serta memakai kacamata. Kulit dibersihkan dengan memakai etil alkohol 70%, isopropil alkohol 60%, khlorheksidin alkohol, atau povidone iodine. Transduser dibersihkan dan dilakukan desinfeksi, kemudian dibungkus dengan plastik khusus yang steril. Membran mukosa vagina dibersihkan dengan larutan yang mengandung khlorheksidin 0,015% ditambah larutan cetrimide 0,15%.
2. Persiapan Alat
Perawatan peralatan yang baik akan membuat hasil pemeriksaan juga tetap baik. Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tatacara yang dianjurkan oleh pabrik pembuat peralatan tersebut. Panduan pengoperasian peralatan USG sebaiknya diletakkan di dekat mesin USG, hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan alat akibat ketidaktahuan operator USG.
Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naik-turun akan membuat peralatan elektronik mudah rusak. Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik dan UPS.
Setiap kali selesai melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan hati-hati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak. Bersihkan transduser dengan memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser (informasi ini dapat diperoleh dari setiap pabrik pembuat mesin USG).
Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan kabel-kabelnya, jangan sampai terinjak atau terjepit. Setelah semua rapih, tutuplah mesin USG dengan plastik penutupnya. Hal ini penting untuk mencegah mesin USG dari siraman air atau zat kimia lainnya.
Agar alat ini tidak mudah rusak, tentukan seseorang sebagai penanggung jawab pemeliharaan alat tersebut.
3. Persiapan Pasien
Sebelum pasien menjalani pemeriksaan USG, ia sudah harus memperoleh informasi yang cukup mengenai pemeriksaan USG yang akan dijalaninya. Informasi penting yang harus diketahui pasien adalah harapan dari hasil pemeriksaan, cara pemeriksaan (termasuk posisi pasien) dan berapa biaya pemeriksaan.
Caranya dapat dengan memberikan brosur atau leaflet atau bisa juga melalui penjelasan secara langsung oleh dokter sonografer atau sonologist. Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan USG atas dirinya.
Bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal, tanyakan kembali apakah ia seorang nona atau nyonya ? jelaskan dan perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk mencegah penularan infeksi).
Pada pemeriksaan USG transrektal, kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi.
Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat melihat seluruh tubuh janin atau organ kandungan, hal ini untuk menghindarkan kesalahan harapan dari pasien. Sering terjadi bahwa pasien mengeluh “Kok sudah dikomputer masih juga tidak dikatahui adanya cacat bawaan janin atau ada kista indung telur ?” USG hanyalah salah satu dari alat bantu diagnostik didalam bidang kedokteran. Mungkin saja masih diperlukan pemeriksaan lainnya agar diagnosis kelainan dapat diketahui lebih tepat dan cepat.
d. Persiapan Pemeriksa
Pemeriksa diharapkan memeriksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG, apa indikasinya dan apakah perlu didahulukan karena bersifat darurat gawat, misalnya pasien dengan kecurigaan kehamilan ektopik. Tanyakan apakah ia seorang nyonya atau nona, terutama bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal.
Selanjutnya cocokkan identitas pasien, keluhan klinis dan pemeriksaan fisik yang ada; kemudian berikan penjelasan dan ajukan persetujuan lisan terhadap tindak medik yang akan dilakukan.
Persetujuan tindak medik yang kebanyakan berlaku di Indonesia saat ini hanyalah bersifat persetujuan lisan, kecuali untuk tindakan yang bersifat invasif misalnya kordosintesis atau amniosintesis.
Dimasa mendatang tampaknya pemeriksaan USG memerlukan persetujuan tertulis dari pasien. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mencegah penularan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS dan penyakit menular seksual akibat semakin banyaknya seks bebas dan pemakaian NARKOBA.
Pemeriksa diharapkan juga agar selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara membaca kembali buku teks atau literatur-literatur mengenai USG, mengikuti pelatihan secara berkala dan mengikuti seminar-seminar atau pertemuan ilmiah lainnya mengenai kemajuan USG mutakhir. Kemampuan diagnostik seorang sonologist sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman dan latihan yang dilakukannya.

PERSIAPAN DAN TEKNIK TEKNIK RADIOGRAFI INTRA VENOUS PYELOGRAPHY (IVP)
1. Persiapan Pasien
1. Pasien makan bubur kecap saja sejak 2 hari (48 jam) sebelum pemeriksaan BNO-IVP dilakukan.
2. Pasien tidak boleh minum susu, makan telur serta sayur-sayuran yang berserat.
3. Jam 20.00 pasien minum garam inggris (magnesium sulfat), dicampur 1 gelas air matang untuk urus-urus, disertai minum air putih 1-2 gelas, terus puasa.
4. Selama puasa pasien dianjurkan untuk tidak merokok dan banyak bicara guna meminimalisir udara dalam usus.
5. Jam 08.00 pasien datang ke unit radiologi untuk dilakukan pemeriksaan, dan sebelum pemeriksaan dimulai pasien diminta buang air kecil untuk mengosongkan blass.
6. Yang terakhir adalah penjelasan kepada keluarga pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan dan penandatanganan informed consent.
2. Persiapan Media Kontras
1. Media kontras yang digunakan adalah yang berbahan iodium, dimana jumlahnya disesuaikan dengan berat badan pasien, yakni 1-2 cc/kg berat badan.
Persiapan Alat dan Bahan
1. Peralatan Steril
a) Wings needle No. 21 G (1 buah)
b) Spuit 20 cc (2 buah)
c) Kapas alcohol atau wipes
d) Tourniquet
2. Peralatan Un-Steril
a) Plester
b) Marker R/L dan marker waktu
c) Media kontras Iopamiro (± 40 – 50 cc)
d) Obat-obatan emergency (antisipasi alergi media kontras)
e) Baju pasien
4. Prosedur Pemeriksaan BNO-IVP
1. Lakukan pemeriksaan BNO posisi AP, untuk melihat persiapan pasien
2. Jika persiapan pasien baik/bersih, suntikkan media kontras melalui intravena 1 cc saja, diamkan sesaat untuk melihat reaksi alergis.
3. Jika tidak ada reaksi alergis penyuntikan dapat dilanjutkan dengan memasang alat compressive ureter terlebih dahulu di sekitar SIAS kanan dan kiri.
4. Setelah itu lakukan foto nephogram dengan posisi AP supine 1 menit setelah injeksi media kontras untuk melihat masuknya media kontras ke collecting sistem, terutama pada pasien hypertensi dan anak-anak.
5. Lakukan foto 5 menit post injeksi dengan posisi AP supine menggunakan ukuran film 24 x 30 untuk melihat pelviocaliseal dan ureter proximal terisi media kontras.
6. Foto 15 menit post injeksi dengan posisi AP supine menggunakan film 24 x 30 mencakup gambaran pelviocalyseal, ureter dan bladder mulai terisi media kontras
7. Foto 30 menit post injeksi dengan posisi AP supine melihat gambaran bladder terisi penuh media kontras. Film yang digunakan ukuran 30 x 40.
8. Setelah semua foto sudah dikonsulkan kepada dokter spesialis radiologi, biasanya dibuat foto blast oblique untuk melihat prostate (umumnya pada pasien yang lanjut usia).
9. Yang terakhir lakukan foto post void dengan posisi AP supine atau erect untuk melihat kelainan kecil yang mungkin terjadi di daerah bladder. Dengan posisi erect dapat menunjukan adanya ren mobile (pergerakan ginjal yang tidak normal) pada kasus pos hematuri.

Rabu, 09 Februari 2011

hemodialisa

HEMODIALISA
Adalah cara pengobatan/prosedur tindakan untuk memisahkan darah dari zat-zat sisa/racun yang dilaksanakan dengan mengalirkan darah melalui membrane semi permeable dimana zat sisa atau racun ini dialihkan dari darah ke cairan dialisat yang kemudian dibuang, sedangkan darah kembali ke dalam tubuh sesuai dengan arti dari hemo yang berarti darah dan dialysis yang berarti memindahkan.
Proses Hemodialisa
Pra Hemodialisa
A. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menyiapkan mesin HD:
a) Mesin diperiksa harus dalam keadaan siap pakai.
b) Hubungkan mesin dengan aliran listrik.
c) Hubungkan mesin dengan saluran air.
d) Drain line ditempatkan di saluran pembuangan tidak dalam keadaan tersumbat.
e) Jerigen tempat cairan dialisat terisi sesuai jumlah yang dibutuhkan untuk satu kali dialisa.
B. Menyiapkan dialisat
Dialisat adalah cairan yang digunakan pada proses HD, terdiri dari campuran air dan elektrolit yang mempunyai konsentrasi hamper sama dengan serum normal dan mempunyai tekanan osmotic yang sama dengan darah.
Fungsi dialisat:
a) Mengeluarkan dan menampung cairan serta sisa-sisa metabolism dari tubuh.
b) Mencegah kehilangan zat-zat vital dari tubuh selama dialisa
Dialisat:
a) Dialisat konsentrat
Berisi larutan pelekat, sebelum dipakai harus dicampur kontinyu dalam perbandingan tertentu oleh mesin.
a. Mudah pemakaiannya
b. Kesalahan pengenceran sangat kecil
c. Sulit transport dan penyimpanan
b) Bentuk kering atau puyer
a. Mudah menyimpan
b. Sulit mendapatkan komposisi yang benar
Kandungan cairan dialisat:
Dialisat mengandung macam-macam garam/elektrolit/zat antara lain:
1. NaCl/sodium klorida
2. CaCl/kalium klorida
3. MgCl2/magnesium klorida
4. NaC2H3O2 3H2O/acetat atau NaHCO3/bikarbonat
5. KCl/potassium klorida, tidak selalu terdapat pada dialisat.
6. Dextrose
Menyiapkan/mencampur dialisat
1. Batch system
Sebelum HD dimulai, dialisat disiapkan dulu dalam suatu tempat dengan jumlah tertentu sesuai kebutuhan.
2. Proportioning system
Adalah system penyediaan dialisat dimana dialisat dibuat/dicampur secara otomatis oleh mesin selama HD berlangsung.
a) DBC/Dialysate Batch Concentrate dan air dicampur dengan perbandingan tertentu
b) Biasanya perbandingan air : DBC adalah 34:1
C. Menyiapkan Air
Air untuk dialisat seharusnya tidak mengandung zat/elektrolit/mikroorganisme dan benda asing lainnya karena itu untuk mendapatkan air yang ideal untuk dialysis maka dilakukan tindakan pengolahan air/water treatment.
pengolahan air/water treatment.
1. Saringan/Filter
a. Penyaring sedimen untuk menyaring partikel
i. Pre filter(100 U)
ii. Sebelum masuk ke mesin HD (5 U)
iii. Sebelum masuk selang dyalizer (1 U)
b. Penyaring penyerap/adsorption filter
i. Arang/carbon: untuk menyerap zat-zat chlorine bebas, chloraming, bahan organic atau pyrogen.
ii. Besi: untuk menyerap isi besi mangaan.
Alat ini harus sering dibersihkan atau digaanti secara berkala.
2. System Reverse Osmosis
Air dengan tekanan cukup tinggi dialirkan melalui alat yang mempunyai membrane semi permeablesehingga dihasilkan air yang murni bebas(kesadahan/CaCO kurang dari 1.8 mg/L).
System pengolahan air ini cukup mahal, sehingga tidak semua unit HD dapat memilikinya.
D. Menyiapkan Alat dan Obat
1. Peralatan Kedokteran
• Tensi meter dan stetoskop
• Timbangan berat badan
• Tabung oksigen lengkap
• Alat EKG
• Slym zuiger
• Tromol (duk, kassa,klem)
• Bak spuit, kom kecil
• Korentang dan tempatnya
• Klem-klem (besar dan kecil)
• Gunting
• Bengkok
• Gelas ukuran
• Zeil/karet untuk alas tangan
• Sarung tangan
• Kassa
• Plester/band aid
• Verband



2. Alat-alat khusus
Dyalizer
• Bloddo line
• AV fistula
• Dialisat pekat
• Infuse set
• Spuit 1cc, 3cc, 20cc
• Conducturty meter
3. Obat-obatan
• Lidocain, novocain
• Alcohol, betadine
• Heparin, protamin
• Sodium bikarbonat
• Obat-obatan penyelamat hidup
4. Lain-lain
• Surat izin dyalisis
• Formulir hemodialisa
• Treveling hemodialisa
• Treveling dialysis
• Formulir-formulir: laboratorium, radiologi dan lain-lain
E. Menjalankan Mesin HD
1. Periksa saluran listrik dan saluran air
2. Hubungan selang water inlet ke kran air dan selang water outlet ke lubang pembuangan
3. Hubungan kabel power dengan stop kontak
4. Siapkan cairan dialisat dalam jerigen sebanyak yang dibutuhkan, perhatikan cairan yang diperlukan apakah standar atau free potassium.
5. Hidupkan mesin dengan posisi rinse selama 15 menit, bila mesin mengandung formalin, maka posisi rinse lebih lama (30 menit)
6. Setelah rinse selesai, masukan slang untuk concentrate ke dalam jerigen dialisat.
7. Lampu temperature, lampu conductivity dan lampu concentrate di mesin akan warna merah, tunggu lampu 2 tersebut sampai warna hijau.
8. Pindahkan tombol kee posisi dialisa bila lampu sudah berwarna hijau.
9. Mesin HD siap digunakan,
F. Menyiapkan Sirkulasi Darah
Yaitu menyiapkan dialiser dan blood lines pada mesin HD
Hal-hal yang harus dilakukan:
1. Soaking yaitu melembabkan dyaliser (hubungkan dyaliser dengan sirkulasi dialisat).
2. Rinsing yaitu membilas dyaliser dan blood lines.
3. Priming yaitu dyaliser dan blood lines.
G. Menyiapkan pasien
1. Persiapan mental
a. Memberi tahu pada pasien bahwa akan dilakukan HD
b. Memberi penjelasan dan motivasi mengenai proses HD dan komplikasi yang mungkin terjadi selama HD.
2. Persiapan fisik
a. Menimbang berat badan
b. Observasi keadaan umum
c. Observasi tanda-tanda vital
d. Mengatur posisi
3. Mengisi izin hemodialisa
a. Izin/persetujuan HD
b. Harus tertulis
c. Pasien dan keluarga harus mendapatkan informasi yang jelas tentang HD
d. Izin HD merupakan dasar pertanggungjawaban yang sah bagi dokter kepada pasien dan keluarga
e. Surat izin HD disimpan pada rekam medis



II. PROSES PELAKSANAAN HEMODIALISA
A. menyiapkan sarana hubungan sirkulasi
untuk menghubungkan sirkulasi darah dari mesin dengan sirkulasi sistemik dilakukan dengan:
a) Cara sementara
yaitu punksi V femoralis untuk inlet dan untuk outlet dapat diplih salah satu vena di tangan.
b) Cara permanen
Yaitu dengan membuat shunt antara lain
• C mino shunt
• Seribner shunt
2) Antikoagulansia
Yaitu obat yang diperlukan untuk mencegah pembekuan darah selama HD. Obat yang digunakan adalah heparin.
Pemakaian heparin:
Intermiten : diberikan selama 1 jam.
Continous : terus-terusan selama HD berjalan.
Minimal : diberikan pada waktu menyiapkan sirkulasi darah.
Regional : pada ABL diberikan heparin pada BL diberikan potamin.
Dosis heparin : 1000 unit/jam
Dosis awal : diberikan pada waktu punksi ke sirkulasi sistemik dan pada waktu darah mulai ditarik.
Dosis selanjutnya diberikan ke sirkulasi ekstra corporeal
III. POST HEMODIALISA
A. Persiapan untuk mengakhiri HD
o Alat/obat yang disiapkan
o Deppers
o Bethadin
o Plester
o Alat penekan
o Sarung tangan
o Ember

B. Hal-hal yang dilakukan setelah hd selesai
Setelah HD selesai maka mesin harus dibersihkan baik bagian diluar maupun dalam. Cara membersihkan:
1. Bagian luar mesin
Seluruh permukaan dan selang dialisat bagian luar dilap dengan larutan chlorine 0,5% lalu dilap basah dan dikeringkan.
2. Bagian dalam mesin
Disesuaikan dengan protocol pembersihan masing-masing tipe mesin.

























DAFTAR PUSTAKA

Beti Budiwangsih, Persiapan Tindakan Hemodialisis, RSUP Dr. Hasan Sadikin
Eddy Harjadi S. Hemodialisis, RS. Dustria
Enday Sukendar, Gagal Ginjal Kronik dalam nefrologi klinik bandung penerbit ITB. Edisi II, 1997
Hendro sarjono Y,. “vascular access” untuk hemodialisa.